<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Elvandry&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://elvandry13.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://elvandry13.wordpress.com</link>
	<description>Elvandry dalam perjalanannya menuju Taqwa</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 Sep 2009 17:44:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='elvandry13.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/2896ae2ff331ef39f76cc415ed5ae58b?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Elvandry&#039;s Blog</title>
		<link>http://elvandry13.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://elvandry13.wordpress.com/osd.xml" title="Elvandry&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://elvandry13.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Cinta yang sebenarnya</title>
		<link>http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/24/cinta-yang-sebenarnya/</link>
		<comments>http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/24/cinta-yang-sebenarnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 12:18:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elvandry Ghifari</dc:creator>
				<category><![CDATA[ceramah-ceramah(ilmu baru)]]></category>
		<category><![CDATA[semua tentangku!]]></category>
		<category><![CDATA[all about me]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elvandry13.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Seorang temanku memberikan pesan kepadaku mengenai Cinta. Berikut penjelasannya: Ingatkah saat Anda dulu jatuh cinta? Atau mungkin saat ini Anda tengah mengalaminya? Itulah yang sedang terjadi pada salah seorang sahabat saya. Akhir-akhir ini tingkah lakunya berubah drastis. Ia jadi suka termenung dan matanya sering menerawang jauh. Jemari tangannya sibuk ketak-ketik di atas tombol telpon genggamnya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elvandry13.wordpress.com&amp;blog=9617414&amp;post=24&amp;subd=elvandry13&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang temanku memberikan pesan kepadaku mengenai Cinta. Berikut penjelasannya:</p>
<p>Ingatkah saat Anda dulu jatuh cinta? Atau mungkin saat ini Anda tengah<br />
mengalaminya? Itulah yang sedang terjadi pada salah seorang sahabat saya.<br />
Akhir-akhir ini tingkah lakunya berubah drastis. Ia jadi suka termenung<br />
dan matanya sering menerawang jauh. Jemari tangannya sibuk ketak-ketik di<br />
atas tombol telpon genggamnya, sambil sesekali tertawa renyah, berbalas<br />
pesan dengan pujaan hatinya. Di lain waktu dia uring-uringan, namun begitu<br />
mendengar nada panggil polyphonic dari alat komunikasi kecil andalannya<br />
itu, wajahnya seketika merona. Lagu-lagu romantis menjadi akrab di<br />
telinganya. Penampilannya pun kini rapi, sesuatu yang dulu luput dari<br />
perhatiannya. Bahkan menurutnya nuansa mimpi pun sekarang lebih<br />
berbunga-bunga. Baginya semuanya jadi tampak indah, warna-warni, dan wangi<br />
semerbak.</p>
<p>Lebih mencengangkan lagi, di apartemennya bertebaran buku-buku karya<br />
Kahlil Gibran, pujangga Libanon yang banyak menghasilkan masterpiece<br />
bertema cinta. Tak cuma menghayati, kini dia pun menjadi penyair yang<br />
mampu menggubah puisi cinta.<span id="more-24"></span> Sesekali dilantunkannya bait-bait syair.<br />
&#8220;Cinta adalah kejujuran dan kepasrahan yang total. Cinta mengarus lembut,<br />
mesra, sangat dalam dan sekaligus intelek. Cinta ibarat mata air abadi<br />
yang senantiasa mengalirkan kesegaran bagi jiwa-jiwa dahaga.&#8221;</p>
<p>Saya tercenung melihat cintanya yang begitu mendalam. Namun, tak urung<br />
menyeruak juga sebersit kontradiksi yang mengusik lubuk hati. Sebagai<br />
manusia, wajar jika saya ingin merasakan totalitas mencintai dan dicintai<br />
seseorang seperti dia. Tapi bukankah kita diwajibkan untuk mencintai Allah<br />
lebih dari mencintai makhluk dan segala ciptaan-Nya?</p>
<p>Lantas apakah kita tidak boleh mencintai seseorang seperti sahabat saya<br />
itu? Bagaimana menyikapi cinta pada seseorang yang tumbuh dari lubuk hati?<br />
Apakah cinta itu adalah karunia sehingga boleh dinikmati dan disyukuri<br />
ataukah berupa godaan sehingga harus dibelenggu? Bagaimana sebenarnya<br />
Islam menuntun umatnya dalam mengapresiasi cinta? Tak mudah rasanya<br />
menemukan jawaban dari kontroversi cinta ini.</p>
<p>Alhamdulillah, suatu hari ada pencerahan dari tausyiah dalam sebuah<br />
majelis taklim bulanan. Islam mengajarkan bahwa seluruh energi cinta<br />
manusia seyogyanya digiring mengarah pada Sang Khalik, sehingga cinta<br />
kepada-Nya jauh melebihi cinta pada sesama makhluk. Justru, cinta pada<br />
sesama makhluk dicurahkan semata-mata karena mencintai-Nya. Dasarnya<br />
adalah firman Allah SWT dalam QS Al Baqarah 165, &#8220;Dan di antara manusia<br />
ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka<br />
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang<br />
beriman amat sangat cintanya kepada Allah.&#8221;</p>
<p>Jadi Allah SWT telah menyampaikan pesan gamblang mengenai perbedaan dan<br />
garis pemisah antara orang-orang yang beriman dengan yang tidak beriman<br />
melalui indikator perasaan cintanya. Orang yang beriman akan memberikan<br />
porsi, intensitas, dan kedalaman cintanya yang jauh lebih besar pada<br />
Allah. Sedangkan orang yang tidak beriman akan memberikannya justru kepada<br />
selain Allah, yaitu pada makhluk, harta, atau kekuasaan.</p>
<p>Islam menyajikan pelajaran yang berharga tentang manajemen cinta; tentang<br />
bagaimana manusia seharusnya menyusun skala prioritas cintanya. Urutan<br />
tertinggi perasaan cinta adalah kepada Allah SWT, kemudian kepada<br />
Rasul-Nya (QS 33: 71). Cinta pada sesama makhluk diurutkan sesuai dengan<br />
firman-Nya (QS 4: 36), yaitu kedua orang ibu-bapa, karib-kerabat (yang<br />
mahram), anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan<br />
tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Sedangkan<br />
harta, tempat tinggal, dan kekuasaan juga mendapat porsi untuk dicintai<br />
pada tataran yang lebih rendah (QS 9: 24). Subhanallah!</p>
<p>Perasaan cinta adalah abstrak. Namun perasaan cinta bisa diwujudkan<br />
sebagai perilaku yang tampak oleh mata. Di antara tanda-tanda cinta<br />
seseorang kepada Allah SWT adalah banyak bermunajat, sholat sunnah,<br />
membaca Al Qur&#8217;an dan berdzikir karena dia ingin selalu bercengkerama dan<br />
mencurahkan semua perasaan hanya kepada-Nya. Bila Sang Khaliq memanggilnya<br />
melalui suara adzan maka dia bersegera menuju ke tempat sholat agar bisa<br />
berjumpa dengan-Nya. Bahkan bila malam tiba, dia ikhlas bangun tidur untuk<br />
berduaan (ber-khalwat) dengan Rabb kekasihnya melalui shalat tahajjud.<br />
Betapa indahnya jalinan cinta itu!</p>
<p>Tidak hanya itu. Apa yang difirmankan oleh Sang Khaliq senantiasa<br />
didengar, dibenarkan, tidak dibantah, dan ditaatinya. Kali ini saya baru<br />
mengerti mengapa iman itu diartikan sebagai mentaati segala perintah-Nya<br />
dan menjauhi segala larangan-Nya. Seluruh ayat-Nya dianggap sebagai<br />
sesuatu yang luar biasa sehingga seseorang yang mencintai-Nya merasa<br />
sanggup berkorban dengan jiwa, raga, dan harta benda demi membela<br />
agama-Nya.</p>
<p>Totalitas rasa cinta kepada Allah SWT juga merasuk hingga sekujur roh dan<br />
tubuhnya. Dia selalu mengharapkan rahmat, ampunan, dan ridha-Nya pada<br />
setiap tindak-tanduk dan tutur katanya. Rasa takut atau cemas selalu<br />
timbul kalau-kalau Dia menjauhinya, bahkan hatinya merana tatkala<br />
membayangkan azab Rabb-nya akibat kealpaannya. Yang lebih dahsyat lagi,<br />
qalbunya selalu bergetar manakala mendengar nama-Nya disebut. Singkatnya,<br />
hatinya tenang bila selalu mengingat-Nya. Benar-benar sebuah cinta yang<br />
sempurna&#8230; Puji syukur ya Allah, saya menjadi lebih paham sekarang! Cinta<br />
memang anugerah yang terindah dari Maha Pencipta. Tapi banyak manusia<br />
keliru menafsirkan dan menggunakannya. Islam tidak menghendaki cinta<br />
dikekang, namun Islam juga tidak ingin cinta diumbar mengikuti hawa nafsu<br />
seperti kasus sahabat saya tadi.</p>
<p>Jika saja dia mencintai Allah SWT melebihi rasa sayang pada kekasihnya.<br />
Bila saja pujaan hatinya itu adalah sosok mukmin yang diridhai oleh-Nya.<br />
Dan andai saja gelora cintanya itu diungkapkan dengan mengikuti<br />
syariat-Nya yaitu bersegera membentuk keluarga sakinah, mawaddah, penuh<br />
rahmah dan amanah&#8230; Ah, betapa bahagianya dia di dunia dan akhirat&#8230;</p>
<p>Alangkah indahnya Islam! Di dalamnya ada syariat yang mengatur bagaimana<br />
seharusnya manusia mengelola perasaan cintanya, sehingga menghasilkan<br />
cinta yang lebih dalam, lebih murni, dan lebih abadi. Cinta seperti ini<br />
diilustrasikan dalam sebuah syair karya Ibnu Hasym, seorang ulama<br />
sekaligus pujangga dan ahli hukum dari Andalusia Spanyol dalam bukunya<br />
Kalung Burung Merpati (Thauqul Hamamah), &#8220;Cinta itu bagaikan pohon,<br />
akarnya menghujam ke tanah dan pucuknya banyak buah.&#8221; Wallahua&#8217;lam<br />
bish-showab.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elvandry13.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elvandry13.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elvandry13.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elvandry13.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elvandry13.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elvandry13.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elvandry13.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elvandry13.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elvandry13.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elvandry13.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elvandry13.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elvandry13.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elvandry13.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elvandry13.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elvandry13.wordpress.com&amp;blog=9617414&amp;post=24&amp;subd=elvandry13&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/24/cinta-yang-sebenarnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d0b986957bef028ad6a295cea4f5b3ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eL</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NOORDIN END STOP!!!</title>
		<link>http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/24/noordin-end-stop/</link>
		<comments>http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/24/noordin-end-stop/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 10:28:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elvandry Ghifari</dc:creator>
				<category><![CDATA[ceramah-ceramah(ilmu baru)]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/24/noordin-end-stop/</guid>
		<description><![CDATA[NORDIN TEWAS, SUKA CITA KAUM MUSLIMIN DAN KESEDIHAN KAUM TERORIS KHAWARIJ Sebagai seorang muslim yang masih berada diatas fitrahnya yang suci, sudah tentu merasakan kegembiraan ketika mendengarkan berita tentang tewasnya seseorang yang dikenal sebagai salah satu gembong teroris Khawarij di masa kini, yang gemar melakukan tindakan kejahatan dan menumpahkan darah manusia, tidak terlepas pula tertumpahnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elvandry13.wordpress.com&amp;blog=9617414&amp;post=23&amp;subd=elvandry13&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>NORDIN TEWAS, SUKA CITA KAUM MUSLIMIN DAN KESEDIHAN KAUM TERORIS KHAWARIJ  Sebagai seorang muslim yang masih berada diatas fitrahnya yang suci, sudah tentu merasakan kegembiraan ketika mendengarkan berita tentang tewasnya seseorang yang dikenal sebagai salah satu gembong teroris Khawarij di masa kini, yang gemar melakukan tindakan kejahatan dan menumpahkan darah manusia, tidak terlepas pula tertumpahnya darah-darah kaum muslimin. Namun berbeda halnya dengan seorang yang telah tertanam padanya benih-benih pemikiran khawarij, dia tentu akan merasa sedih dengan terbunuhnya salah satu dari tokoh mereka,yang selama ini dianggap “berjihad” dengan cara-caranya.<span id="more-23"></span> Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menggelarinya dengan sebutan “mujahid” atau “mati syahid”.  Kaum Muslimin yang kami muliakan, termasuk diantara petunjuk didalam Islam yang diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam dan para sahabatnya adalah tidak menampakkan kesedihan dengan tewasnya tokoh-tokoh teroris khawarij. Bagaimana mungkin seseorang bersedih, sementara mereka dengan melakukan tindakan membabi buta tanpa mengikuti koridor syari’at Islam yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya dan melakukan berbagai tindakan teror yang menyebabkan ketakutan kaum muslimin yang hidup di dalam negeri mereka sendiri. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا “Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti seorang muslim lainnya.” (HR.Abu Dawud (5004) dari beberapa sahabat Nabi )  Oleh karenanya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan tegas menyebut mereka kaum khawarij sebagai anjing-anjing neraka. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:  الْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ “Khawarij adalah anjing-anjing neraka.” (HR.Ibnu Majah:173, dari Ibnu Abi Aufa radhiallahu anhu)  Demikian pula halnya para sahabat Nabi –semoga Allah meridhai mereka- tidak merasa sedih dengan meninggalnya tokoh-tokoh teroris khawarij, bahkan sebaliknya dengan menampakkan perasaan gembira dan bersyukur atas meninggalnya. Diriwayatkan dari Abu Ghalib berkata: Abu Umamah –radhiallahu anhu- melihat kepala-kepala (kaum khawarij) yang dipajang ditangga masjid Damaskus, lalu Abu Umamah berkata: كِلَابُ النَّارِ شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ خَيْرُ قَتْلَى من قَتَلُوهُ  “Anjing-anjing neraka, (mereka) seburuk-buruk yang terbunuh di bawah kolong langit,dan sebaik-baik yang terbunuh adalah yang mereka bunuh.” Lalu Abu Umamah berkata: &#8220;Sekiranya aku tidak mendengar hadits ini (dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam) sekali, dua kali sampai tujuh kali, aku tidak akan memberitakannya kepada kalian.” (HR.Tirmidzi:3000)  Perhatikanlah hadits ini yang menunjukkan betapa seringnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam memberi peringatan kepada umatnya dari bahaya kaum khawarij ini.  Demikian pula yang dilakukan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu,sebagaimana yang diriwayatkan oleh Zabban bin Shabirah Al-Hanafi bahwa ia berkata ketika menceritakan keikutsertaannya dalam perang Nahrawan dalam menumpas kaum Khawarij: “Aku termasuk yang menemukan dzu tsadyah, lalu menyampaikan berita gembira ini kepada Ali radhiallahu anhu dan aku melihatnya sujud yang menunjukkan kegembiraannya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf: 8424)  Yang dimaksud Dzu tsadyah adalah salah seorang dari kalangan khawarij yang diberitakan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, Dzu tsadyah artinya yang memiliki benjolan pada bagian tangannya yang menyerupai payudara, bagian atasnya seperti puting payudara yang memiliki bulu-bulu kecil mirip kumis kucing. (Fathul Bari:12/298)  Demikianlah sikap para ulama salaf dalam menyikapi kaum teroris khawarij.Semoga Allah memelihara kita semua dari kejahatan dan makar mereka, dan semoga Allah menyelamatkan kaum muslimin dari berbagai pemikiran dan syubhat mereka yang menyesatkan manusia dari jalan Allah Azza Wajalla. Benarlah ucapan Abul ‘Aliyah rahimahullah:  إن علي لنعمتين ما أدري أيتهما أعظم أن هداني الله للإسلام ولم يجعلني حروريا  “Sesungguhnya aku merasakan dua kenikmatan yang aku tidak mengetahui manakah diantara dua kenikmatan tersebut yang terbesar: ketika Allah memberi hidayah kepadaku untuk memeluk islam, dan tidak menjadikan aku sebagai haruri (khawarij).” (diriwayatkan Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf:18667)  Ditulis oleh: Abu Karimah Askari bin Jamal 28 Ramadhan 1430 H.  (Dikutip dari http://ibnulqoyyim.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=89&amp;Itemid=2)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elvandry13.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elvandry13.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elvandry13.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elvandry13.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elvandry13.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elvandry13.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elvandry13.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elvandry13.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elvandry13.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elvandry13.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elvandry13.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elvandry13.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elvandry13.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elvandry13.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elvandry13.wordpress.com&amp;blog=9617414&amp;post=23&amp;subd=elvandry13&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/24/noordin-end-stop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d0b986957bef028ad6a295cea4f5b3ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eL</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puasa 6 hari pada bulan syawal</title>
		<link>http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/24/puasa-6-hari-pada-bulan-syawal/</link>
		<comments>http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/24/puasa-6-hari-pada-bulan-syawal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 08:54:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elvandry Ghifari</dc:creator>
				<category><![CDATA[ceramah-ceramah(ilmu baru)]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elvandry13.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : « من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر » “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan (puasa) enam pada bulan Syawwal, maka jadilah seperti puasa setahun.” (HR. Muslim 782, dari shahabat Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu) Dengan berlalunya Ramadhan, tidak berarti berlalu pula amal ibadah. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elvandry13.wordpress.com&amp;blog=9617414&amp;post=20&amp;subd=elvandry13&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>« من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر »</p>
<p>“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan (puasa) enam pada bulan Syawwal, maka jadilah seperti puasa setahun.”</p>
<p>(HR. Muslim 782, dari shahabat Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Dengan berlalunya Ramadhan, tidak berarti berlalu pula amal ibadah. Justru, di antara tanda seorang berhasil meraih kesuksesan selama bulan Ramadhan adalah tampaknya pengaruh yang terus ia bawa pasca Ramadhan.</p>
<p>Di antara syari’at yang Allah tuntunkan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam pasca bulan Ramadhan adalah puasa selama 6 hari pada bulan Syawwal. Puasa ini sebagai kesempurnaan ibadah puasa Ramadhan. Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan sebulan penuh<span id="more-20"></span>, kemudian dilanjutkan berpuasa 6 hari dalam bulan Syawwal, maka dia mendapat pahala puasa selama setahun.</p>
<p>Mari kita ikuti berbagai rincian dan pernik hukum terkait puasa 6 hari bulan Syawwal ini bersama dua ‘ulama international terkemuka abad ini, Al-‘Allamah Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah dan Asy-Syaikh Al-Faqih Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam jawaban dan fatwa yang beliau berdua sampaikan menjawab pertanyaan yang diajukan kepada beliau berdua :</p>
<p>Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah :</p>
<p>Bulan Syawwal semuanya merupakan waktu yang diizinkan untuk berpuasa 6 hari padanya [1]:</p>
<p>Pertanyaan : Bolehkah bagi seseorang memilih hari-hari tertentu pada bulan Syawwal untuk ia melaksanakan puasa 6 hari. Ataukah puasa tersebut memiliki watu-waktu khusus?dan apakah jika menjalankan puasa tersebut menjadi wajib atasnya?</p>
<p>Jawab : Telah pasti riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawwal maka menjadi seperti puasa setahun.” Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari kitab Ash-Shahih.</p>
<p>6 hari tersebut ditentukan selama satu bulan (Syawwal). Boleh bagi seorang mukmin untuk memilih dari bagian bulan Syawwal tersebut. Jika mau ia boleh berpuasa pada awal bulan, atau pertengahan bulan, atau pada akhirnya. Kalau mau ia boleh berpuasa secara terpisah-pisah, kalau mau boleh ia berpuasa berturut-turut. Jadi sifatnya longgar/bebas, bihamdillah. Kalau ia bersegera melaksanakannya secara berturut-turut pada awal bulan (Syawwal), maka yang demikian afdhal (lebih utama). Sebab yang demikian termasuk bersegera kepada kebaikan. Dan dengan itu bukan menjadi kewajiban atasnya. Boleh baginya tidak mengerjakannya pada tahun kapanpun. Namun senantiasa melaksanakan puasa Syawwal (setiap tahunnya) adalah afdhal (lebih utama) dan akmal (lebih sempurna). Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Amal yang paling Allah cintai adalah amalan yang pelakunya kontinyu/terus-menerus dalam melaksanakannya meskipun sedikit.” Wallahul Muwaffiq</p>
<p>(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XV/390-391)</p>
<p>Tidak Dipersyaratkan Berturut-turut dalam Melaksakan Puasa 6 Hari Syawwal</p>
<p>Pertanyaan : Apakah dalam melaksanakan puasa 6 hari pada bulan Syawwal harus dikerjakan secara berturut-turut? Ataukah boleh berpuasa secara terpisah-pisah selama bulan Syawwal?</p>
<p>Jawab : Puasa 6 hari Syawwal merupakan sunnah yang pasti dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh mengerjakannya secara berturut-turut, dan boleh juga terpisah-pisah. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan puasa 6 hari secara mutlak, tidak menentukan secara beturut-turut ataupun secara terpisah, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawwal maka seperti puasa setahun.” Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya.</p>
<p>Wallahul Muwaffiq (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XV/391)</p>
<p>Yang Disyari’atkan adalah Mendahulukan Qadha’ (hutang Puasa Ramadhan) sebelum puasa 6 hari Syawwal</p>
<p>Pertanyaan : Apakah boleh berpuasa 6 hari Syawwal sebelum melaksanakan kewajiban mengqadha’ (membayar hutang) puasa Ramadhan?</p>
<p>Jawab : Para ‘ulama berbeda pendapat dalam masalah tersebut. Pendapat yang benar adalah bahwa yang disyari’at mendahulukan qadha’ sebelum puasa 6 hari Syawwal dan puasa-puasa sunnah lainnya. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawwal maka seperti puasa setahun.” Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya.</p>
<p>Barangsiapa yang mendahulukan puasa 6 hari Syawwal sebelum mengqadha` maka dia belum memenuhi syarat mengikutkan puasa 6 hari Syawwal dengan puasa Ramadhan, tapi baru mengikutkannya dengan sebagian puasa Ramadhan.</p>
<p>Dan juga karena puasa qadha` adalah fardhu, sedangkan puasa 6 hari Syawwal adalah tathawwu’ (sunnah/tidak wajib). Yang fardhu lebih berhak untuk dipentingkan dan diperhatikan. Wabillahit Taufiq.</p>
<p>(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XV/392)</p>
<p>Hukum Mengqadha` Puasa 6 hari Syawwal setelah bulan Syawwal berlalu</p>
<p>Pertanyaan : Seorang wanita biasa berpuasa 6 hari Syawwal setiap tahun. Pada suatu tahun dia mengalami nifas karena melahirkan pada awal bulan Ramadhan, dan tidaklah ia suci/selesai dari nifasnya kecuali setelah keluar dari bulan Ramadhan. Kemudian setelah ia suci tersebut, ia melaksanakan Qadha’ puasa Ramadhan. Apakah harus baginya untuk mengqadha’ puasa 6 hari syawwal sebagaimana ia mengqadha’ Ramadhan, meskipun itu sudah di luar bulan Syawwal? Ataukah tidak ada wajib atasnya kecuali qadha` Ramadhan? Dan apakah puasa 6 hari Syawwal tersebut harus dilakukan terus menerus (setiap tahun) ataukah tidak?</p>
<p>Jawab : Puasa 6 hari Syawwal adalah sunnah, bukan fardhu. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawwal maka seperti puasa setahun.” Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya.</p>
<p>Hadits tersebut menunjukkan bahwa tidak mengapa melakukan puasa 6 hari tersebut secara berturut-turut atau boleh juga secara terpisah-pisah, karena kemutlakan redaksinya.</p>
<p>Dan menyegerakan pelaksanaannya afdhal (lebih utama), berdasarkan firman Allah :</p>
<p>dan aku bersegera kepada-Mu. Wahai Rabb-ku, agar Engkau ridha (kepadaku)”. (Tha-ha : 84)</p>
<p>juga berdasarkan ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits-hadits nabawiyyah yang menunjukkan keutamaan berlomba dan bersegera kepada kebaikan.</p>
<p>Dan tidak wajib terus-menerus dalam melaksanakan puasa 6 hari tersebut, namun jika dilaksanakan terus menerus itu lebih utama. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Amal yang paling Allah cintai adalah amalan yang dilakukan secara terus menerus oleh pelakunya meskipun sedikit.” Muttafaqun ‘alaihi.</p>
<p>Tidak disyari’atkan mengqadha` puasa 6 hari tersebut jika telah berlalu/lewat bulan Syawwal, karena itu adalah ibadah sunnah yang telah berlalu waktunya. Baik ia meninggalkannya karena udzur atau pun tidak karena udzur (sama-sama tidak ada qadha`).</p>
<p>Wallahu waliyyut Taufiq</p>
<p>(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi`ah XV/388-389</p>
<p>* * *</p>
<p>Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah</p>
<p>Pertanyaan : Apakah ada keutamaan shaum 6 hari Syawwal? Apakah melaksanakannya secara terpisah atau harus berturut-turut?</p>
<p>Jawab : Ya, ada keutamaan puasa 6 hari Syawwal. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawwal maka seperti puasa setahun.” Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya.</p>
<p>Yakni seperti puasa setahun penuh.</p>
<p>Namun yang perlu diperhatikan bahwa keutamaan tersebut tidak akan terwujud kecuali apabila seseorang telah selesai dari melaksanakan puasa Ramadhan seluruhnya. Oleh karena itu, apabila seseorang berkewajiban mengqadha` Ramadhan, maka dia harus melaksanakan puasa qadha’ tersebut lebih dahulu, baru kemudian dia berpuasa 6 hari Syawwal. Kalau dia berpuasa 6 hari Syawwal namun belum mengqadha’ hutang Ramadhan, maka dia tidak memperoleh keutamaan tersebut, baik kita berpendapat dengan pendapat yang menyatakan sahnya puasa sunnah sebelum melakukan qadha` atau kita tidak perpendapat demikian. [2] Yang demikian karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan … “</p>
<p>Adapun orang yang masih punya kewajiban mengqadha’ (membayar hutang puasa) Ramadhan, maka dia dikatakan ‘berpuasa sebagian Ramadhan‘, tidak dikatakan “berpuasa Ramadhan“</p>
<p>Dan boleh melaksanakannya secara terpisah-pisah atau pun secara berturut. Namun berturut-turut lebih utama, karena padanya terdapat sikap bersegera menuju kepada kebaikan, dan tidak terjatuh pada sikap menunda-nunda, yang terkadang menyebabkan tidak melakukan puasa sama sekali.</p>
<p>Pertanyaan : Apakah bisa diperoleh pahala puasa 6 hari Syawwal bagi barangsiapa yang masih memiliki tanggungan qadha’ Ramadhan, namun ia mengerjakan puasa tersebut sebelum melakukan puasa qadha`?</p>
<p>Jawab : Puasa 6 hari Syawwal tidak akan diperoleh pahala/keutamaanya kecuali jika seseorang telah menyempurnakan puasa bulan Ramadhan. Barangsiapa yang masih memiliki kewajiban mengqadha’ Ramadhan, maka dia jangan berpuasa 6 hari Syawwal kecuali melaksakan puasa qadha’ Ramadhan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan … “</p>
<p>Atas dasar itu, kita katakan kepada orang yang masih punya kewajiban qadha’, “Laksanakan puasa qadha’ terlebih dahullu, kemudian baru lakukan puasa 6 hari Syawwal.”</p>
<p>Bila telah selesai bulan Syawwal sebelum ia sempat berpuasa 6 hari, maka ia tidak bisa memperoleh keutamaan tersebut, kecuali apabila karena udzur.</p>
<p>Bila pelaksanaan puasa 6 hari Syawwal ini bertepatan dengan hari Senin atau Kamis, maka dia dia bisa memperoleh dua pahala sekaligus dengan niat mendapatkan pahala puasa 6 hari Syawwal dan pahala puasa Senin &#8211; Kamis. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Amal-amal itu harus dengan niat. Dan bagi masing-masing orang akan mendapat apa yang ia niatkan.”.</p>
<p>Pertanyaan : Apakah boleh seseorang memilih melakukan puasa 6 hari Syawwal, ataukah 6 hari tersebut ada waktu tertentu? Dan apakah jika seorang muslim melaksakana puasa 6 hari tersebut kemudian menjadi kewajiban atasnya dan wajib melaksanakannya setiap tahun?</p>
<p>Jawab : telah sah riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : “barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawwal maka seperti puasa setahun.” Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya.</p>
<p>6 hari tersebut bukanlah hari-hari tertentu/terbatas dari bulan Syawwal. Namun boleh bagi seorang mukmin untuk memilihnya. Jika mau dia boleh berpuasa pada awal bulan, jika mau boleh berpuasa pada pertengahan bulan, dan jika mau boleh berpuasa pada akhir bulan, jika mau boleh mengerjakannhya secara terpisah-pisah. Sifatnya longgar, bihamdillah.</p>
<p>Jika dia bersegera mengerjakannya secara berturut-turut pada awal bulan, maka yang dimikian afdhal (lebih utama) karena termasuk bersegera pada kebaikan. Namun tidak ada kesempitan dalam hal ini, bihamdillah, bahkan sifatnya longgar. Jika mau berturut-turut, jika mau maka boleh terpisah-pisah. Kemudian jika dia mengerjakannya pada sebagian tahun, dan tidak mengerjakannya pada sebagian tahun lainnya, maka tidak mengapa. Karena itu ibadah tathawwu’ (sunnah), bukan ibadah fadhu.</p>
<p>(Majmu’ Fatawa Ibni ‘Utsaimin XX/5-8)</p>
<p>[1] Yakni selain tanggal 1 Syawwal (pentj)</p>
<p>[2] Yakni ada satu permasalahan yang diperselisihkan di kalangan ‘ulama, apakah boleh/sah berpuasa sunnah sebelum mengqadha’Ramadhan. Namun permasalahan puasa 6 hari Syawwal sebelum mengqadha’ Ramadhan ini adalah permasalahan lain di luar permasalahan pertama. Karena masalah puasa 6 hari Syawwal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersyarakat harus berpuasa Ramadhan secara penuh terlebih dahulu. (pentj)</p>
<p>(Dikutip dari <a href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=366#more-366" target="_blank">http://www.assalafy.org/mahad/?p=366#more-366</a>)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elvandry13.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elvandry13.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elvandry13.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elvandry13.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elvandry13.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elvandry13.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elvandry13.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elvandry13.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elvandry13.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elvandry13.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elvandry13.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elvandry13.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elvandry13.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elvandry13.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elvandry13.wordpress.com&amp;blog=9617414&amp;post=20&amp;subd=elvandry13&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/24/puasa-6-hari-pada-bulan-syawal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d0b986957bef028ad6a295cea4f5b3ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eL</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berdebat tanpa ilmu</title>
		<link>http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/23/berdebat-tanpa-ilmu/</link>
		<comments>http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/23/berdebat-tanpa-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 18:27:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elvandry Ghifari</dc:creator>
				<category><![CDATA[ceramah-ceramah(ilmu baru)]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/23/berdebat-tanpa-ilmu/</guid>
		<description><![CDATA[وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلاَ هُدًى وَلاَ كِتَابٍ مُنِيْرٍ. ثَانِيَ عِطْفِهِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ لَهُ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَنُذِيْقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيْقِ. ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللهَ لَيْسَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ “Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elvandry13.wordpress.com&amp;blog=9617414&amp;post=15&amp;subd=elvandry13&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="item_body">وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلاَ هُدًى وَلاَ كِتَابٍ مُنِيْرٍ. ثَانِيَ عِطْفِهِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ لَهُ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَنُذِيْقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيْقِ. ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللهَ لَيْسَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ</p>
<p>“Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Ia mendapat kehinaan di dunia dan di hari kiamat. Kami merasakan kepadanya adzab neraka yang membakar. (Akan dikatakan kepadanya): ‘Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya’.” (Al-Hajj: 8-10)</p>
<p>Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat</p>
<p>ثَانِيَ عِطْفِهِ</p>
<p>“Memalingkan lambung atau lehernya.” Ini merupakan gambaran bahwa dia tidak menerima dan berpaling dari sesuatu.<span id="more-15"></span></p>
<p>Ibnu Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma mengatakan: “Ia menyombongkan diri dari kebenaran jika diajak kepadanya.”</p>
<p>Mujahid, Qatadah, dan Malik dari Zaid bin Aslam mengatakan: “Memalingkan lehernya, yaitu berpaling dari sesuatu yang dia diajak kepadanya dari kebenaran, karena sombong.” Seperti firman-Nya:</p>
<p>وَفِي مُوْسَى إِذْ أَرْسَلْنَاهُ إِلَى فِرْعَوْنَ بِسُلْطَانٍ مُبِيْنٍ. فَتَوَلَّى بِرُكْنِهِ وَقَالَ سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُوْنٌ</p>
<p>“Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir’aun dengan membawa mukjizat yang nyata. Maka dia (Fir’aun) berpaling (dari keimanan) bersama tentaranya, dan berkata: ‘Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila’.” (Adz-Dzariyat: 38-39)</p>
<p>Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullahu berkata: “Yang benar dari penafsiran tersebut adalah dengan mengatakan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati orang yang mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala ini tanpa ilmu, bahwa itu karena kesombongannya. Jika diajak kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia berpaling dari yang mengajaknya, sambil memalingkan lehernya dan tidak mau mendengar apa yang dikatakan kepadanya dengan berlaku sombong.” (Tafsir At-Thabari)</p>
<p>لِيُضِلَّ</p>
<p>“Untuk menyesatkan.” Ada yang mengatakan bahwa huruf lam dalam ayat ini adalah menjelaskan tentang akibat. Maknanya yaitu yang berakibat dia menyesatkan (manusia) dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pendapat ini dikuatkan oleh Al-Qurthubi rahimahullahu dalam tafsirnya. Adapula yang mengatakan bahwa huruf lam tersebut sebagai ta’li, yang berarti bertujuan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. (lihat Tafsir Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi)</p>
<p>Penjelasan Makna Ayat</p>
<p>Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu tatkala menjelaskan ayat ini, mengatakan:</p>
<p>“Perdebatan tersebut bagi seorang muqallid (yang mengikuti satu perkataan tanpa dalil). Perdebatan ini berasal dari setan yang jahat yang menyeru kepada berbagai bid’ah. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa dia mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara mendebat para rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para pengikutnya dengan cara yang batil dalam rangka menggugurkan kebenaran, tanpa ilmu yang benar dan petunjuk. Dia tidak mengikuti sesuatu yang membimbingnya dalam perdebatannya itu. Tidak dengan akal yang membimbing dan tidak pula dengan seseorang yang diikuti karena hidayah. Tidak pula dengan kitab yang bercahaya, yaitu yang jelas dan nyata. Dia tidak memiliki hujjah baik secara aqli maupun naqli, namun hanya sekedar menampilkan syubhat-syubhat yang dibisikkan oleh setan kepadanya. (Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman):</p>
<p>وَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لَيُوْحُوْنَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوْكُمْ</p>
<p>“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu.” (Al-An&#8217;am: 121)</p>
<p>Bersamaan dengan itu, dia memalingkan lambung dan lehernya. Ini merupakan gambaran tentang kesombongannya dari menerima kebenaran serta menganggap remeh makhluk yang lain. Dia merasa bangga dengan apa yang dia miliki berupa ilmu yang tidak bermanfaat, serta meremehkan orang-orang yang berada di atas kebenaran dan al-haq yang mereka miliki. Akibatnya, dia menyesatkan manusia, yaitu dia termasuk ke dalam penyeru kepada kesesatan. Termasuk dalam hal ini adalah semua para pemimpin kufur dan kesesatan. Lalu (Allah Subhanahu wa Ta’ala) menyebutkan hukuman yang mereka dapatkan di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>لَهُ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ</p>
<p>“baginya di dunia kehinaan.” Yaitu, dia akan menjadi buruk di dunia sebelum di akhirat.</p>
<p>Dan ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menakjubkan, di mana tidaklah engkau mendapati seorang da’i yang menyeru kepada kekafiran dan kesesatan melainkan dia akan dimurkai di jagad raya ini. Ia mendapatkan laknat, kebencian, celaan, yang berhak ia peroleh. Setiap mereka tergantung keadaannya.</p>
<p>وَنُذِيْقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيْقِ</p>
<p>“Dan Kami akan merasakan kepadanya pada hari kiamat adzab neraka yang membakar.”</p>
<p>yaitu Kami akan menjadikan dia merasakan panasnya yang dahsyat dan apinya yang sangat panas. Hal itu disebabkan apa yang telah dia amalkan. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berlaku dzalim terhadap hamba-hamba-Nya. (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)</p>
<p>Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keadaan orang-orang sesat yang jahil dan hanya bertaqlid dalam firman-Nya:</p>
<p>وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ</p>
<p>“Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat.” (Al-Hajj: 3)</p>
<p>Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut dalam ayat ini keadaan para penyeru kepada kesesatan dari tokoh-tokoh kekafiran dan kesesatan. Yaitu, di antara manusia ada yang mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tanpa ilmu, tanpa hidayah, dan tanpa kitab yang bercahaya, yaitu tanpa akal sehat dan tanpa dalil syar’i yang benar dan jelas. Namun hanya sekedar akal dan hawa nafsu. (Tafsir Ibnu Katsir)</p>
<p>Terjadi perselisihan di kalangan para ulama tentang siapa yang dimaksud dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah An-Nadhr bin Al-Harits dari Bani Abdid Dar, tatkala dia berkata bahwa para malaikat ini merupakan anak-anak perempuan Allah. Adapula yang mengatakan yang dimaksud adalah Abu Jahl bin Hisyam, dan ada lagi yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Al-Akhnas bin Syuraiq. Namun ayat ini mencakup setiap yang mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berakibat menolak kebenaran dan menjauhkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik dia orang kafir, munafik, atau dari kalangan ahli bid’ah.</p>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma tatkala beliau menjelaskan makna “ia memalingkan lehernya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah”: “Dia adalah ahli bid’ah.” (lihat Tafsir Al-Qurthubi)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tanpa ilmu” ini merupakan celaan terhadap setiap orang yang mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa ilmu. Juga merupakan dalil yang menunjukkan bolehnya (berdebat) bila dengan ilmu, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibrahim ‘alaihissalam dengan kaumnya.” (Majmu’ Fatawa, 15/267)</p>
<p>Berdebat, antara yang Boleh dan yang Terlarang</p>
<p>Terdapat nash-nash yang menjelaskan tentang tercelanya berdebat dalam agama Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</p>
<p>مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللهِ إِلاَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوا فَلاَ يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلاَدِ</p>
<p>“Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu.” (Ghafir: 4)</p>
<p>dan firman-Nya:</p>
<p>إِنَّ الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِي آيَاتِ اللهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُوْرِهِمْ إِلاَّ كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيْهِ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Ghafir: 56)</p>
<p>Telah diriwayatkan dari hadits Aisyah radhiyallahu &#8216;anha berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلىَ اللهِ اْلأَلَدُّ الْخَصِمُ</p>
<p>“Orang yang paling dibenci Allah adalah yang suka berdebat.” (Muttafaq Alaihi)</p>
<p>Juga dari hadits Abu Umamah radhiyallahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوا الْجَدَلَ. ثُمَّ تَلاَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ اْلآيَةَ: {مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُوْنَ}</p>
<p>“Tidaklah tersesat satu kaum setelah mendapatkan hidayah yang dahulu mereka di atasnya, melainkan mereka diberi sifat berdebat.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</p>
<p>مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُوْنَ</p>
<p>“Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (Az-Zukhruf: 58) [HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami’ no. 5633]</p>
<p>Abdurrahman bin Abiz Zinad berkata: “Kami mendapati orang-orang yang mulia dan ahli fiqih -dari orang-orang pilihan manusia- sangat mencela para ahli debat dan yang mendahulukan akalnya. Dan mereka melarang kami bertemu dan duduk bersama orang-orang itu. Mereka juga memperingatkan kami dengan keras dari mendekati mereka.” (lihat Al-Ibanah Al-Kubra 2/532, Mauqif Ahlis Sunnah, Asy-Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili 2/591)</p>
<p>Demikian pula Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengatakan: “Pokok-pokok ajaran As-Sunnah menurut kami adalah: berpegang teguh di atas metode para sahabat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti mereka, dan meninggalkan bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat. Dan meninggalkan pertengkaran serta duduk bersama pengekor hawa nafsu, juga meninggalkan dialog dan berdebat serta bertengkar dalam agama ini.” (Syarh Al-Lalika`i, 1/156, Mauqif Ahlis Sunnah, Ar-Ruhaili 2/591)</p>
<p>Wahb bin Munabbih rahimahullahu berkata: “Tinggalkan perdebatan dari perkaramu. Karena sesungguhnya engkau tidak akan terlepas dari menghadapi salah satu dari dua orang: (1) orang yang lebih berilmu darimu, lalu bagaimana mungkin engkau berdebat dengan orang yang lebih berilmu darimu? (2) orang yang engkau lebih berilmu darinya, maka bagaimana mungkin engkau mendebat orang yang engkau lebih berilmu darinya, lalu dia tidak mengikutimu? Maka tinggalkanlah perdebatan tersebut!” (Lammud Durr, karangan Jamal Al-Haritsi hal. 158)</p>
<p>Namun di samping dalil-dalil yang melarang berdebat tersebut di atas, juga terdapat nash-nash lain yang menunjukkan kebolehannya. Di antara yang menunjukkan bolehnya berdebat adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</p>
<p>ادْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ</p>
<p>“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125)</p>
<p>Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan beberapa kisah debat antara Rasul-Nya dengan orang-orang kafir. Seperti kisah Ibrahim ‘alaihissalam yang mendebat kaumnya. Demikian pula debat Nabi Musa ‘alaihissalam dengan Fir’aun, dan berbagai kisah lainnya yang disebutkan dalam Al-Qur`an. Demikian pula dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan perdebatan antara Nabi Adam dan Musa ‘alaihissalam, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu.</p>
<p>Ibnu Rajab rahimahullahu berkata: “Banyak dari kalangan imam salaf mengatakan: Debatlah kelompok Al-Qadariyyah dengan ilmu, jika mereka mengakui maka mereka membantah (pemikiran mereka sendiri). Dan jika mereka mengingkari, maka sungguh mereka telah kafir.”</p>
<p>Demikian pula banyak terjadi perdebatan di kalangan ulama salaf, seperti yang terjadi antara ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu dengan Ghailan Ad-Dimasyqi Al-Qadari, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma yang mendebat kelompok Khawarij, Al-Auza’i rahimahullahu yang berdebat dengan seorang qadari (pengikut aliran Qadariyyah), Abdul ‘Aziz Al-Kinani rahimahullahu dengan Bisyr bin Ghiyats Al-Marisi Al-Mu’tazili, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dengan para tokoh ahli bid’ah, serta yang lainnya, yang menunjukkan diperbolehkannya melakukan dialog dan debat tersebut. (Mauqif Ahlis Sunnah, 2/597)</p>
<p>Apa yang telah kami sebutkan di atas menunjukkan bahwa dalam masalah berdebat, tidak dihukumi dengan sikap yang sama. Namun tergantung dari keadaan, tujuan, dan maksud dari perdebatan tersebut. An-Nawawi rahimahullahu berkata:</p>
<p>“Jika perdebatan tersebut dilakukan untuk menyatakan dan menegakkan al-haq, maka hal itu terpuji. Namun jika dengan tujuan menolak kebenaran atau berdebat tanpa ilmu, maka hal itu tercela. Dengan perincian inilah didudukkan nash-nash yang menyebutkan tentang boleh dan tercelanya berdebat.”</p>
<p>Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu berkata: “Pertengkaran dan perdebatan dalam perkara agama terbagi menjadi dua:</p>
<p>Pertama: dilakukan dengan tujuan menetapkan kebenaran dan membantah kebatilan. Ini merupakan perkara yang terpuji. Adakalanya hukumnya wajib atau sunnah, sesuai keadaannya. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</p>
<p>ادْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ</p>
<p>“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125)</p>
<p>Kedua: dilakukan dengan tujuan bersikap berlebih-lebihan, untuk membela diri, atau membela kebatilan. Ini adalah perkara yang buruk lagi terlarang, berdasarkan firman-Nya:</p>
<p>مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللهِ إِلاَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوا</p>
<p>“Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir.” (Ghafir: 4)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ فَأَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ</p>
<p>“Dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku adzab mereka. Maka betapa (pedihnya) adzab-Ku.” (Ghafir: 5) [Mauqif Ahlis Sunnah, 2/600-601]</p>
<p>Ibnu Baththah rahimahullahu berkata: “Jika ada seseorang bertanya: ‘Engkau telah memberi peringatan kepada kami dari melakukan pertengkaran, perdebatan, dan dialog (dengan ahlul bid&#8217;ah). Dan kami telah mengetahui bahwa inilah yang benar. Inilah jalan para ulama, jalan para sahabat, dan orang-orang yang berilmu dari kalangan kaum mukminin serta para ulama yang diberi penerangan jalan. Lalu, jika ada seseorang datang kepadaku bertanya tentang sesuatu berupa berbagai macam hawa nafsu yang nampak dan berbagai macam pendapat buruk yang menyebar, lalu dia berbicara dengan sesuatu darinya dan mengharapkan jawaban dariku; sedangkan aku termasuk orang yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan ilmu tentangnya serta pemahaman yang tajam dalam menyingkapnya. Apakah aku tinggalkan dia berbicara seenaknya dan tidak menjawabnya serta aku biarkan dia dengan bid’ahnya, dan saya tidak membantah pendapat jeleknya tersebut?’</p>
<p>Maka aku akan mengatakan kepadanya: Ketahuilah wahai saudaraku –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatimu– bahwa orang yang seperti ini keadaannya (yang mau mendebatmu), yang engkau diuji dengannya, tidak lepas dari tiga keadaan:</p>
<p>(1) Adakalanya dia orang yang engkau telah mengetahui metode dan pendapatnya yang baik, serta kecintaannya untuk mendapatkan keselamatan dan selalu berusaha berjalan di atas jalan istiqamah. Namun dia sempat mendengar perkataan mereka yang para setan telah bercokol dalam hati-hati mereka, sehingga dia berbicara dengan berbagai jenis kekufuran melalui lisan-lisan mereka. Dan dia tidak mengetahui jalan keluar dari apa yang telah menimpanya tersebut, sehingga dia bertanya dengan pertanyaan seseorang yang meminta bimbingan, untuk mendapat solusi dari problem yang dihadapinya dan obat dari gangguan yang dialaminya. Dan engkau memandang bahwa dia akan taat dan tidak menyelisihinya.</p>
<p>Orang yang seperti ini, yang wajib atasmu adalah mengarahkan dan membimbingnya dari berbagai jeratan setan. Dan hendaklah engkau membimbingnya kepada Al-Kitab dan As-Sunnah serta atsar-atsar yang shahih dari ulama umat ini dari kalangan para sahabat dan tabi’in. Semua itu dilakukan dengan cara hikmah dan nasihat yang baik. Dan jauhilah sikap berlebih-lebihan terhadap apa yang engkau tidak ketahui, lalu hanya mengandalkan akal dan tenggelam dalam ilmu kalam. Karena sesungguhnya perbuatanmu tersebut adalah bid’ah. Jika engkau menghendaki sunnah, maka sesungguhnya keinginanmu mengikuti kebenaran namun dengan tidak mengikuti jalan kebenaran tersebut adalah batil. Dan engkau berbicara tentang As-Sunnah dengan cara bukan As-Sunnah adalah bid’ah. Jangan engkau mencari kesembuhan saudaramu dengan penyakit yang ada pada dirimu. Jangan engkau memperbaikinya dengan kerusakanmu, karena sesungguhnya orang yang menipu dirinya tidak bisa menasihati manusia. Dan siapa yang tidak ada kebaikan pada dirinya, maka tidak ada pula kebaikan untuk yang lainnya. Siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beri taufiq, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meluruskan jalannya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolong dan membantunya.”</p>
<p>Abu Bakr Al-Ajurri rahimahullahu berkata:</p>
<p>“Jika seseorang berkata: ‘Jika seseorang yang telah diberi ilmu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu ada seseorang datang kepadanya bertanya tentang masalah agama, lalu mendebatnya; apakah menurutmu dia perlu mengajaknya berdialog agar sampai kepadanya hujjah dan membantah pemikirannya?’</p>
<p>Maka katakan kepadanya: ‘Inilah yang kita dilarang dari melakukannya, dan inilah yang diperingatkan oleh para imam kaum muslimin yang terdahulu.’</p>
<p>Jika ada yang bertanya: ‘Lalu apa yang harus kami lakukan?’</p>
<p>Maka katakan kepadanya: ‘Jika orang yang menanyakan permasalahannya kepadamu adalah orang yang mengharapkan bimbingan kepada al-haq dan bukan perdebatan, maka bimbinglah dia dengan cara yang terbaik dengan penjelasan. Bimbinglah dia dengan ilmu dari Al-Kitab dan As-Sunnah, perkataan para shahabat dan ucapan para imam kaum muslimin. Dan jika dia ingin mendebatmu, maka inilah yang dibenci oleh para ulama, dan berhati-hatilah engkau terhadap agamamu.’</p>
<p>Jika dia bertanya: ‘Apakah kita biarkan mereka berbicara dengan kebatilan dan kita mendiamkan mereka?’</p>
<p>Maka katakan kepadanya: ‘Diamnya engkau dari mereka dan engkau meninggalkan mereka dalam apa yang mereka bicarakan itu lebih besar pengaruhnya atas mereka daripada engkau berdebat dengannya. Itulah yang diucapkan oleh para ulama terdahulu dari ulama salafush shalih kaum muslimin.&#8221; (Lammud Durr, Jamal Al-Haritsi hal. 160-162)</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elvandry13.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elvandry13.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elvandry13.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elvandry13.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elvandry13.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elvandry13.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elvandry13.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elvandry13.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elvandry13.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elvandry13.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elvandry13.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elvandry13.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elvandry13.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elvandry13.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elvandry13.wordpress.com&amp;blog=9617414&amp;post=15&amp;subd=elvandry13&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/23/berdebat-tanpa-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d0b986957bef028ad6a295cea4f5b3ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eL</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>islam tidak menghalalkan segala cara</title>
		<link>http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/23/islam-tidak-menghalalkan-segala-cara/</link>
		<comments>http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/23/islam-tidak-menghalalkan-segala-cara/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 18:21:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elvandry Ghifari</dc:creator>
				<category><![CDATA[ceramah-ceramah(ilmu baru)]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elvandry13.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Telah berlalu suatu masa yang diabadikan dalam sejarah sebagai masa jahiliah. Umat manusianya dilanda krisis keimanan dan haus akan siraman rohani. Perilakunya menyimpang dari norma-norma luhur dan agama yang suci. Lorong-lorong kehidupannya pun dikotori sampah-sampah kesyirikan dan kemaksiatan. Sementara pelita keimanan dan rambu-rambu akhlak mulia telah lama redup (di tengah mereka) bahkan tak menyisakan satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elvandry13.wordpress.com&amp;blog=9617414&amp;post=12&amp;subd=elvandry13&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Telah berlalu suatu masa yang diabadikan dalam sejarah sebagai masa jahiliah. Umat manusianya dilanda krisis keimanan dan haus akan siraman rohani. Perilakunya menyimpang dari norma-norma luhur dan agama yang suci. Lorong-lorong kehidupannya pun dikotori sampah-sampah kesyirikan dan kemaksiatan. Sementara pelita keimanan dan rambu-rambu akhlak mulia telah lama redup (di tengah mereka) bahkan tak menyisakan satu cahaya. Tak heran bila corak kehidupannya adalah persembahan ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, kebejatan akhlak dan dekadensi moral. Betapa pengap dan gelapnya lorong-lorong kehidupan di masa itu, sehingga membuat dada setiap orang yang melaluinya sesak lagi sempit.<span id="more-12"></span><br />
Di kala umat manusia terenyak bingung dalam kegelapan dan kepengapan tersebut, terbitlah mentari kenabian Muhammad bin Abdullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bercahayakan Islam (dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala), menyinari segala kegelapan dan menghilangkan segala kepengapan dengan pancaran iman dan akhlak mulia yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
يَاأَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ. يَهْدِي بِهِ اللهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ<br />
“Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari Al-Kitab yang kalian sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan (Al-Qur’an). Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Ma’idah: 15-16)<br />
Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah agama yang sempurna dan paripurna (tuntas). Syariatnya yang senantiasa relevan sepanjang masa benar-benar menyinari segala sudut kehidupan umat manusia. Tak hanya wacana keilmuan semata yang dipancarkannya, misi tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) dari berbagai macam akhlak tercela (amoral) pun berjalan seiring dengan misi keilmuan tersebut dalam mengawal umat manusia menuju puncak kemuliaannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ. وَءَاخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ<br />
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Jumu’ah: 2-3)</p>
<p>Kewajiban Menyambut Agama Islam<br />
Cahaya Islam yang terang-benderang dan syariatnya yang sempurna ini, amat dibutuhkan umat manusia sepanjang masa. Terbukti, orang-orang yang menyambutnya dan istiqamah di atasnya sangat berbeda keadaannya dengan orang-orang yang enggan atau bahkan berkesumat benci terhadapnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
أَفَمَنْ شَرَحَ اللهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ<br />
“Maka apakah orang-orang yang Allah lapangkan dadanya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (Az-Zumar: 22)<br />
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata: “Apakah sama orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala lapangkan dadanya untuk (menyambut) agama Islam, siap menerima dan menjalankan segala hukum yang dikandungnya dengan penuh kelapangan, bertebar sahaja, dan di atas kejelasan ilmu (inilah makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “ia mendapat cahaya dari Rabbnya”), sama dengan selainnya?! Yaitu orang-orang yang membatu hatinya terhadap Kitabullah, enggan mengingat ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan berat hatinya untuk menyebut (nama) Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan kondisinya selalu berpaling dari (ibadah kepada) Rabbnya dan mempersembahkan (ibadah tersebut) kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Merekalah orang-orang yang ditimpa kecelakaan dan kejelekan yang besar.” (Taisir Al-Karimirrahman hal. 668)<br />
Maka dari itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mewasiatkan kepada para hamba-Nya agar masuk ke dalam agama Islam secara total (kaffah) dan menyambut seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana firman-Nya l:<br />
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ<br />
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (Al-Baqarah: 208)<br />
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ<br />
“Hai orang-orang yang beriman, sambutlah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan.” (Al-Anfal: 24)<br />
Di antara misi Islam yang didakwahkan kepada umatnya adalah menanamkan sikap selektif dalam memilih mata pencaharian (yang merupakan bagian dari prinsip tazkiyatun nufus). Islam tak menghalalkan segala cara demi memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan semuanya diatur sedemikian rupa demi kebahagiaan mereka baik di dunia maupun di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ<br />
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan; karena setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (Al-Baqarah: 168)</p>
<p>Fenomena Mengais Rezeki<br />
Dunia mengais rezeki mengoleksikan aneka macam orang yang bergumul di sekeliling aneka macam mata pencaharian. Di antara mereka ada yang berpandangan bahwa waktu adalah uang. Ambisinya untuk menumpuk harta amat besar, sehingga segenap waktu dan umurnya hanya dipergunakan untuk mengais rezeki. Tak ayal, bila kesibukannya itu kemudian melalaikannya dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala (dzikrullah), shalat lima waktu maupun kewajiban lainnya. Tidakkah mereka ingat akan ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala:<br />
ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ<br />
“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang serta dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat dari perbuatan mereka itu).” (Al-Hijr: 3)<br />
Di antara mereka pun ada orang-orang yang gelap mata dan buta hati dalam mengais rezeki. Mereka tak lagi memerhatikan mana yang halal dan mana yang haram, sehingga nyaris jiwa dan raganya serta keluarganya tumbuh berkembang dari harta syubhat bahkan dari harta haram. Manakala diingatkan, tak jarang dari lisannya terlontar ungkapan kekesalan: “Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal!” Wallahul musta’an.<br />
Namun demikian, di antara mereka masih ada orang-orang baik yang tak terlalaikan dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ. لِيَجْزِيَهُمُ اللهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ<br />
“Orang-orang dari kaum lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) menunaikan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi bergoncang (hari kiamat). (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan, dan supaya Allah menambahkan karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (An-Nur: 37-38)<br />
Adapun mata pencaharian yang mereka geluti; ada yang halal, ada yang syubhat, dan ada pula yang haram. Yang halal dicari, sedangkan yang syubhat dan yang haram wajib ditinggalkan. Di antara jenis yang haram adalah riba dengan segala bentuknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ. يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ. الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ<br />
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri (ketika dibangkitkan dari kuburnya, pen.) melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, disebabkan mereka (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Allah, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), urusannya (terserah) Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni An-Nar; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah. Dan Allah tidak suka terhadap orang yang tetap di atas kekafiran dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, merekalah orang-orang yang mendapat pahala di sisi Rabb mereka. Tiada kekhawatiran pada diri mereka dan tiada (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian benar-benar orang yang beriman. Jika kalian masih keberatan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian. Dan jika kalian bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagi kalian pokok (modal) harta; kalian tidaklah menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Al-Baqarah: 275-279)<br />
Demikian pula memakan harta orang lain dengan cara yang batil, terkhusus dalam arena jual beli atau yang selainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا<br />
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku di atas asas saling meridhai di antara kalian.” (An-Nisa’: 29)<br />
Perjudian dengan sekian modelnya pun demikian adanya, menjadi jalan pintas ‘mengais rezeki’ yang haram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ<br />
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban) untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kalian (dari perbuatan itu).” (Al-Ma’idah: 90-91)<br />
Tak ketinggalan pula praktik penipuan, suap-menyuap, dan sejenisnya, yang terkadang demi meluluskan keinginan bejatnya itu ditempuh jalur hukum, dalam kondisi pelakunya sadar bahwa ia sedang berbuat aniaya terhadap sesamanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ<br />
“Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil dan (janganlah) kalian membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kalian dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kalian mengetahui.” (Al-Baqarah: 188)</p>
<p>Belajar Dari Sebuah Fenomena<br />
Berangkat dari fenomena di atas, patutlah dicamkan oleh setiap insan muslim bahwa mengais rezeki yang halal merupakan kewajiban setiap insan muslim. Sebagaimana pula mencari rezeki dengan cara syubhat atau haram merupakan perbuatan yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, ketidaksabaran seseorang akan tempaan dan ujian yang menimpanya seringkali menjerumuskannya dalam murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka dari itu, sangatlah penting bagi setiap muslim untuk mengimani bahwa rezeki itu datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq), yang kepunyaan-Nya lah seluruh perbendaharaan langit dan bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ<br />
“Kepunyaan-Nya lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Asy-Syura: 12)<br />
Dia-lah Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang keluasan kasih sayang-Nya membentangkan segala kemudahan bagi para hamba-Nya untuk mencari rezeki dan karunia-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا<br />
“Dan Kami jadikan siang untuk mencari sumber penghidupan.” (An-Naba’: 11)<br />
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ<br />
“Apabila telah ditunaikan shalat (Jum’at), maka bertebaranlah kalian di muka bumi; dan carilah karunia (rezeki) Allah, dan ingatlah selalu kepada Allah agar kalian beruntung.” (Al-Jumu’ah: 10)<br />
Dia-lah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang Maha Menentukan rezeki tersebut (dengan segala hikmah dan keilmuan-Nya) atas segenap makhluk-Nya, sesuai dengan bagiannya masing-masing. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ<br />
“Dan Allah melebihkan sebagian kalian atas sebagian yang lain dalam hal rezeki.” (An-Nahl: 71)<br />
Demikianlah keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala Ar-Razzaq (Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki) dengan segala kekuasaan-Nya. Maka sudah seyogianya bagi setiap insan muslim untuk bersabar dan tidak putus asa dalam mencari rezeki yang halal di tengah krisis ekonomi dan keterpurukan moral dewasa ini. Sebagaimana pula ia harus selalu bersyukur manakala usahanya (yang halal) membuahkan hasil sesuai harapan. Karena semua itu tak lepas dari kebijaksanaan dan keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala Dzat Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana.<br />
Tak kalah pentingnya, hendaknya setiap insan muslim menjadikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini sebagai prinsip utama dalam segala upaya mencari rezeki. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:<br />
أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْـمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْـمُرْسَلِيْنَ. فَقَالَ: {ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ }. فَقَالَ: {ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ }. ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ، أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِِِ إِلَى السَّمَاءِ. يَا رَبِّ، يَا رَبِّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟<br />
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik (Suci), tidaklah menerima kecuali sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada para Rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Hai para Rasul makanlah dari segala sesuatu yang baik dan beramal shalihlah, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjakan.’ (Al-Mukminun: 51) Dia juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman makanlah dari segala sesuatu yang baik, yang telah Kami rizkikan kepada kalian.’ (Al-Baqarah: 172) Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang seorang laki-laki yang sedang melakukan perjalanan jauh (safar), dalam kondisi rambutnya acak-acakan dan tubuhnya dipenuhi oleh debu, lalu menengadahkan tangannya ke langit (seraya) berdoa: Ya Rabbi! Ya Rabbi! sementara makanannya dari hasil yang haram, minumannya dari hasil yang haram, pakaiannya pun dari hasil yang haram dan (badannya) tumbuh berkembang dari hasil yang haram. Maka mana mungkin doanya akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala?!” (HR. Muslim dalam Shahih-nya, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, hadits no. 1015 )<br />
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata: “Seorang laki-laki (yang disebutkan dalam hadits di atas, pen.) mempunyai empat kriteria (mulia):<br />
Pertama: Bahwasanya dia sedang melakukan perjalanan (safar) yang jauh, dan safar merupakan salah satu momentum dikabulkannya sebuah doa.<br />
Kedua: Rambutnya acak-acakan dan tubuhnya dipenuhi oleh debu… Ini juga merupakan salah satu sebab dikabulkannya sebuah doa.<br />
Ketiga: Menengadahkan tangannya ke langit. Ini pun merupakan salah satu sebab dikabulkannya sebuah doa.<br />
Keempat: Dia berdoa dengan menyeru: Ya Rabbi! Ya Rabbi! yang merupakan tawassul dengan kekuasaan (rububiyyah) Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini pun salah satu sebab dikabulkannya sebuah doa.<br />
Namun ternyata doanya tak dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena makanannya dari hasil yang haram, pakaiannya dari hasil yang haram, dan (badannya) pun tumbuh berkembang dari hasil yang haram.” (Diringkas dari Syarh Al-Arbain An-Nawawiyyah, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu)<br />
Subhanallah … Betapa besarnya pengaruh makanan, minuman, dan pakaian yang didapat dengan cara haram bagi kehidupan seseorang. Doa dan permohonannya tak lagi didengar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu, kemanakah dia akan mengadukan berbagai problematikanya?! Dan kepada siapakah dia akan meminta perlindungan dan pertolongan?!<br />
Betapa meruginya dia… Betapa sengsaranya dia… Manakala Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam ini telah berlepas diri darinya. Adakah yang mau mengambil pelajaran?!<br />
Wallahu a’lam bish-shawab.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elvandry13.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elvandry13.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elvandry13.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elvandry13.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elvandry13.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elvandry13.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elvandry13.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elvandry13.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elvandry13.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elvandry13.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elvandry13.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elvandry13.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elvandry13.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elvandry13.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elvandry13.wordpress.com&amp;blog=9617414&amp;post=12&amp;subd=elvandry13&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/23/islam-tidak-menghalalkan-segala-cara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d0b986957bef028ad6a295cea4f5b3ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eL</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HidupHidup Baru, Awal Yang Lebih Baik Dari Sebelumnya!</title>
		<link>http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/23/hiduphidup-baru-awal-yang-lebih-baik-dari-sebelumnya/</link>
		<comments>http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/23/hiduphidup-baru-awal-yang-lebih-baik-dari-sebelumnya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 16:36:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elvandry Ghifari</dc:creator>
				<category><![CDATA[semua tentangku!]]></category>
		<category><![CDATA[all about me]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/23/hiduphidup-baru-awal-yang-lebih-baik-dari-sebelumnya/</guid>
		<description><![CDATA[assalamualaikum wr wb. . . hello! bagaimana lebaran kemarin? asyik ngga? terus, ziarah ke makam-makam ngga? OK! sedikit tentangku saat awal Ramadhan kemarin, hari demi hari yang eL lewati sangat berkesan, banyak sekali pelajaran-pelajaran yang eL dapatkan, cobaan-cobaan, godaan-godaan, telat sahur, buka bareng bersama scout one, dan masih banyak lagi. Tapi, yang paling berkesan saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elvandry13.wordpress.com&amp;blog=9617414&amp;post=4&amp;subd=elvandry13&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>assalamualaikum wr wb. . .<br />
hello! bagaimana lebaran kemarin? asyik ngga?<br />
terus, ziarah ke makam-makam ngga?</p>
<p>OK! sedikit tentangku saat awal Ramadhan kemarin, hari demi hari yang eL lewati sangat berkesan, banyak sekali pelajaran-pelajaran yang eL dapatkan, cobaan-cobaan, godaan-godaan, telat sahur, buka bareng bersama scout one, dan masih banyak lagi.<br />
Tapi, yang paling berkesan saat Ramadhan kali ini adalah saat mendapatkan banyak ilmu baru yang patut dipelajari dan dibekali untuk di akhirat nanti. Hal itu juga membuat eL mendapatkan dorongan untuk menuju jalan taqwa.<br />
Salah satu contohnya adalah, saat menerima kenalan dari Jawa Timur di facebook-ku, Umi Aminatul Wachidah. Sampai sekarang, eL masih belajar tentang islam dari notes-nya, dan situs web yang dia berikan. Jadi eL pantaskan memanggil beliau dengan sebutan Bu Ustadzah&#8230;<br />
Yang kedua, saat mengikuti kegiatan pramuka di sekolahku. Disana ada acara yang paling ditunggu-tunggu olehku, yaitu &#8220;Rahmatan Lil Alamin Way&#8217;s&#8221;. Mengapa? Karena disana eL mendapatkan banyak pelajaran dari forum-forum penggalang mengenai islam bersama Ka Rahmat, scoutmaster kita.<br />
Yang ketiga, dari temanku yang bernama Ayunda Rahmadini.Mengapa? eL mendapatkan banyak imajinasi dari dia. Juga dari bahasa Inggris-nya yang super duper keren, manteplah. Liat aja di multiply-nya, serasa di London.<br />
Yang keempat, dari temanku yang bernama Naufal,dan teman-teman di scout one. Berkat mereka, eL jadi semakin semangat beribadah dan memperkuat iman eL.<br />
Yang kelima, saat gempa yang terjadi minggu-minggu kemarin, eL langsung teringat kepada sang Maha Pencipta Allah,juga teringat sama kematian, dan hari kiamat.</p>
<p>Ilmu yang kalian berikan sangat bermanfaat, sehingga eL mendapatkan tema pada saat ceramah/kultum di sekolah.<br />
Sebenarnya sih, masih banyak lagi yang belum tercantumkan disini, tapi, pengalaman-pengalaman itu yang eL selalu ingat sampai sekarang. Terima kasih atas pelajaran-pelajaran yang kalian berikan, semoga amal kalian diterima disisi Allah SWT.amien&#8230;</p>
<p>Setelah bulan Ramadhan kemarin, mari kita instropeksi diri kita untuk mengembangkan diri kita agar lebih baik dari sebelumnya salah satu contohnya adalah dari pelajaran-pelajaran yang kita dapatkan, kita amalkan dan ingatkan kepada orang lain dengan hati yang ikhlas. Mari kita jadikan Lebaran kemarin adalah &#8220;Hidup Baru, jadikan Awal Yang Baik Dari Sebelumnya!&#8221;<br />
wassalamualaikum wr wb<br />
-eL-</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elvandry13.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elvandry13.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elvandry13.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elvandry13.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elvandry13.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elvandry13.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elvandry13.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elvandry13.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elvandry13.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elvandry13.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elvandry13.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elvandry13.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elvandry13.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elvandry13.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elvandry13.wordpress.com&amp;blog=9617414&amp;post=4&amp;subd=elvandry13&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elvandry13.wordpress.com/2009/09/23/hiduphidup-baru-awal-yang-lebih-baik-dari-sebelumnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d0b986957bef028ad6a295cea4f5b3ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eL</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
